Entri Populer

Rabu, 12 Oktober 2016

Malam

Nuansa ruang ini semakin jenuh. Jenuh tak ada pelarut. Sudut semakin menusuk. Memandang adalah pilihan yang tepat tapi menjadi salah kalau kita melihatnya menggunakan sisi lain dari diri kita, hati. Sudah lama aku duduk disini, bertemankan beberapa buku yang sedari tadi menunggu untuk dibaca tapi mendadak menjadi pengangguran karena pandanganku teralihkan, dan juga hati yang sedari tadi lirih sambil mendengar suaranya dalam sunyi.


Ku kembali pada diriku. Diriku yang murni. Jam sudah menunjukkan pukul satu kala itu. lalu aku beranjak dari peristirahatanku. Mulai lagi dengan yang baru. Sambil memandang pandangan hampa dari sebuah harapan malam ini. Lelah akan tugas kuliah. Tapi lelah lagi ketika melihatmu tak bereaksi spontan akan keberadaan orang lain

Sabtu, 08 Oktober 2016

Dekat

Sudah  bertahun ini kita sering bersama
Sering
Saking seringnya aku lupa keberadaanmu
mengurai cerita kita tiap hari
merajut tali kasih
melupakan beban yang menumpang di punggung kita
tak ada kata asing
tak ada malu
lupa
lupa akan kesendirian
dan dekat
dekat sepeti jiwa ini yang menggenggam pandanganmu


Tertahan

Suatu hari kita saling bertatap
Bermuara sunyi
Ku perhatikan segala tingkahmu
Belenggu
Tak ada kata terucap di masing-masing bibir
Adakah aku di ujung lidahmu?
Ruang kita dipenuhi saling sahut antara gelombang kita
Namun tak menjadi suara
Sepertinya kamu asyik dengan iramamu
Kita tak sefrekuensi
Namun aku bisa membaca isyaratmu
Tapi tak bisa menjabarkannya
Ku ingin mengatakannya
Sebuah ruangwaktu antara kita jauh
Menginginkan sesuatu yang tersimpan
Diujung aku tak bisa meluapkannya
Ruang kita
Sempit
Waktu semakin berlalu dan...
Kata yang terucap hanyalah...

lalu

Kamis, 07 April 2016

Percakapan

Hari ini beribu jawab menghantui hati yang gundah. Melihatmu dalam suatu ruang kotak dimensi kita membuatku sadar keberadaanmu berarti jauh yang teramat menyakitkan. Hari ini, asa itu dibubarkan oleh hadiah yang kau sajikan dihadapanku. Selama ini aku hanya dihadapkan pada mimpi-mimpi semua yang aku buat dengan duniaku sendiri. Mimpi yang membuatku bertahan. Mimpi yang menjadi kekuatan, mimpi yang menjadi nafas, mimpi yang menjadi jiwa. Hari ini aku masih mengumpulkan puing-puing kekuatan itu, nafas yang nyaris putus, jiwa yang nyaris dicabut oleh Tuhan hanya untuk menginjak tanah tempat kau mengundang. Aku berusaha menawar senyum pada hatiku yang nyaris lumpuh dan aku berusaha menahan air dari pelupuk mataku. Semuaku lakukan karena ku anggap ini adalah persembahan terakhir yang bisa kuperjuangkan untuk orang yang kucinta.
Lebih dari lima tahun setelah  kita mengucap sumpah di gedung itu, aku masih belum bisa melepas bayangmu dari pandanganku. Tak kenal seberapa jauh Indonesia-Jerman dan tak tahu untaian rindu yang terpanjatkan, hari-hari yang melelahkan itu mampu mempertahankan rasa yang telah aku buat dari tingkat dimana kita mempelajari semesta jauh dari semester-semester sebelumnya.

“Matahari kini semakin surut, tak kau ucap saja rindu padanya yang telah lama kau tunggu?” kata seseorang kawan disebelahku.

“Kalau Tuhan izinkan, sudah kulakukan itu sejak sedia kala. Kamu pernah lebih baik mana, ganti Tuhan atau ganti pacarkan? Bagiku, tak ada yang bisa menggantikan Tuhan siapapun. Beliau kekal adanya di hati masing-masing insan. Masih bisa kamu mengatakkan aku akan ganti Tuhan? Tapi perlu kamu ketahui aku tak bisa menggantinya dari segala ruang pikiranku. Tahun pertama di Jerman sangat berat, apalagi Bandung tak bisa lepas dari bayang-bayang.”

“Move on!”

“Kalau bisa, seharusnya jarak yang terlampau jauh bisa menepis hasrat untuk bersama. Aku telah kehilangan jejaknya, namun harapa masih ada untuk orang yang selalu berdoa.”

“Umurmu berapa sekarang?”

“Jalan 29 tahun.”

“Sudah saatnya kamu membuka hati!”

“Membubarkan segala cinta yang telah dibangun bertahun-tahun? Aku tidak yakin dengan hal itu! itu bahkan lebih sulit dari persama Friedmann yang sempat diajarkan Bu Hesti. Kamu ingat tidak ketika aku kehilangan arah karena nilai UTS Pengantar Kosmologiku jelek? Aku seperti orang bodoh saat itu. Namun setidaknya saat itu senyumku masih bisa ditawar dengan harga murah. Bahkan aku masih bisa ketawa! Tertawa seperti orang gila. lalu hari ini aku seperti kehilangan arah lagi.”

“Bukannya kamu sempat mengalami ini dulu? Masda? Lalu kamu masih baik-baik saja. Bahkan kamu masih menjadi mahasiswa terbaik di angkatan. Hei, kamu tidak lemah!”

“Tapi waktu masih ada sisa harapankan saat itu? Setidaknya belum  ada yang mengontrak dia.”

“Sebegitu cintakah kau dengannya?”

“Bohong jika aku berkata tidak!”

“Kenapa?”

“Ada daun yang jauh dari pohon, lalu ia tertiup angin. Kamu bisa membayangkan betapa tak berharganya daun itu. tapi tanah begitu mencintainya. Ia menjadikan sebuah daun yang berharga dengan menyediakan seluruh badannya untuk daun itu bersandar. Bukan hanya tempat menaruh beban tapi tanah mampu menjadikannya berguna untuk menyuburkannya.”

“Dia tanah?”

“Tanah yang membuatku mati tidak sia-sia.”

“Semua orang bisa menjadikannya tanah bagimu! Apa kamu pikir dulu aku tak menjadikan diriku tanah bagimu?”

“Daun jatuh dimana dia ditakdirkan jatuh. Aku ditakdirkan jatuh di tanahnya.”

Dunia membisu, kelabu menerkam perasaan hampa. Percakapan hari ini diakhiri oleh diam. Mungkin temanku itu lelah. Kami memandangi hal yang sama, pada satu tujuan. Namun arti dari pandangan kami berbeda. Berusaha kuat menatap atau bahagia karena telah dipertemukan.

Kamis, 25 Juni 2015

Sunyi

Kesunyian ini bernama tanpamu
Menelanjangi kebahagiaan yang sudah disusun
Membutai mata hati yang telah dilatih menjadimu
Menutup mulut untuk berbicara aku sedang membutuhkanmu
Lalu kesunyian ini bernama ketiadaanmu
Membunuh setiap rongga hidup
Meracuni insan hati yang berusaha menyatu
Menelantarkan anak kecil merayu
Kesunyian ini bernama kepergianmu

Jumat, 12 Juni 2015

Sakit



Dalam rintih, aku bertanya pada Ilahi
Tentang sakit menerpa musim-musim yang selalu berganti
Lalu apa maksud dari kesakitan pada hari haru terbenam?
Lalu ia terbit lagi di horizon pikir
Lalu ia sakit merintih tak tahu arah tapi ia tahu harus kemana
Sakit melihat sakit yang telah menjadi penyakit

Sabtu, 14 Februari 2015

Lalu

Lalu yang punya pergi
Lalu yang punya datang
Lalu yang punya melepas
Lalu yang punya menggenggam
Lalu yang punya hilang
Lalu yang punya muncul
Lalu yang punya berlalu
Lalu yang punya ….

Lalu 

Jumat, 13 Februari 2015

Siluet

“Samar…
Tapi ia masi nampak
Hitam putih
Lalu terpisahkan sekat
Nampak…
Tapi semakin samar
Hitam putih
Dan tertahan sekat”

Ada yang unik dari hari itu. 3 hari yang aneh dengan 2 paket kejadian. Aku sebut itu kejadian ruang dan lapang. Karena kejadian itu menyita ruang dan harus melapangkan dada untuk menarik nafas, senang atau malah negasi darinya. Aku aku kumpulkan lagi memori-memori tentang kehidupan ruang dan lapang itu. Jelas teringat bahwa kejadian-kejadian itu membawa maksud, titipan Tuhan. 3 hari berturut-turut disambut, berkali-kali aku meremas lengan 3 orang berbeda dihari itu. 3 hari berturut-turut aku menggigit bibirku sendiri lalu menundukkan kepala. Dan satu hari paling konyol, menyanyikan lagu tentang kembali dan manusia itu datang. Luar biasa! Apa yang hendak Tuhan sampaikan?
“Samar..
Semakin tampak
Aku memeluk bayangan dan berusaha menemukan sosok dibalik sekat
Lalu..
Nampak lagi
Perasaan yang tersamarkan oleh waktu
Hingga tiba saatnya aku sadar ia hanya bayangan
Bayangan senja yang bisa dinikmati
Bukan untuk dimiliki”

Sungguh sangat sadar dengan logika yang mendalam. Berapa kali aku berusaha menatap matanya. Tak bisa! Dia bayang. Tak bisa membaca arti bola matanya. Tak bisa menerk arti senyumnya. Tunggu, aku lupa dia bayangan! Bahkan aku tak bisa melihat senyumnya.

“Lalu aku memutuskan untuk putus
Putus dari kenyataan
Putus dari dunia
Lalu menyelam masuk dalam bayang
Hitam putih
semoga aku tak lupa masih punya masa depan”


Selasa, 10 Februari 2015

Wisuda Oktober

Hari ini, sudut perpustakaan. Aku harus rela belajar sambil ditemani banyak pertanyaan di otakku. Bukan hanya tentang materi yang ada di hadapanku, bukan tentang apa yang dipelajari Nopal atau Dimas. Semua kembali memori saat Wisuda Oktober setahun yang lalu. Aku sebut itu adalah kenangan yang tak terlupakan. Kenangan yang kadang membuat tersenyum bahagia, tersenyum tipis, dan juga sedih berkepanjangan. Ditambah lagi lagu-lagu di playlist yang membuat aku semakin ingat pada salah satu objek hari itu. Hm… rasanya berat sekali. Sesekali harus aku tundukan kepalaku sejenak. Bukan karena bingung masalah program yang aku buat, tapi sedih atas apa yang aku alami, Wisuda Oktober.


Kenapa harus Wisuda Oktober? Padahal tentu banyak kejadian selain wisuda oktober yang pernah kami alami. Entah. Mungkin itu adalah awal. Saat syukuran. Saat hari wisuda itu sendiri. Ya sudah. Yang jelas aku sedih, tapi senang untuk mengenangnya. Kenapa harus wisuda? Karena sebentar lagi Wisuda Maret. Mungkin tak ada kenangan manis lagi. Tak ada kejadian perjalanan dari kampus, tak ada kejadian makan atau hanya sekadar minum the susu di Sadikin. Kuning dan biru juga hilang. Tidak untuk semua itu. Mungkin aku juga tidak ikut serta dalam semua perayaan megah itu. Yang jelas ada satu yang masih ada, cinta dalam doa yang suci di pagi hari.

Senin, 09 Februari 2015

Sudut

Sudut itu dipersempit
Mempersempit ruang dan waktu
Mempersempit kisah dan cita
Mempersempit angan dan harapan
Mempersempit kesempatan untuk kembali
Mempersempit jalan untuk pulang

Sudut itu semakin sempit
Sudut itu semakin meruncing
Menjadi tajam seketika
Menjadi senjata pembunuh
Lalu menyerang hati dan pikiran
Aku mati oleh sudut

Minggu, 08 Februari 2015

Mencintaimu dengan Sederhana



Judul ini terinspirasi dari sebuah puisi Bapak Sapardi. Dimana dalam baitnya tertulis:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tak ada lirik yang seindah setiap kata pada puisi itu jalau tentang cinta, cinta dan cinta.
Lalu hari ini aku selalu berdoa untuk segala kebaikan, lalu hari ini aku berharap masih ada cara, setidaknya hanya untuk bertegur sapa atau yang paling sederhana, tersenyum kepada orang itu, orang yang aku sangat cintai.

Seketika teringat kejadian tadi siang, ketika aku duduk di dekat pintu sebuah ruangan di sudut kampus. Pandangan ku fokus pada semesta dihadapanku. Entah kenapa ada hal yang memanggilku untuk menoleh ke belakang. Ya, ternyata kehadiranmu menyita sedetik waktuku untuk sekadar melihatmu hari ini. Aku memalingkan muka. Terlalu takut melihat wajahmu, bahkan aku sangat takut merasakan kehadiranmu. Lalu aku tertunduk diam dan kembali ke semestaku.

Suaramu, kapanpun membuat aku selalu jatuh cinta. Aku sengaja mengeraskan volume headset agar tak mendengar suaramu, agar tak jatuh cinta lagi  padamu. Tapi nurani memaksaku untuk melepaskan itu dan mencicipi sedikit suaramu, mencicipi indahnya tenggelam dalam cintamu. Oh Tuhan, aku tak kuasa! Rasanya aku tak kuat lagi dan ingin pergi dari singgasanaku. Akhirnya aku putuskan untuk berlalu bersama seorang teman yang kebetulan itu pergi bersama jalannya waktu.

Aku lega. Lega bukan karena lepas dari pandanganmu. Tapi lega karena setelah berada berpuluh meter darimu, aku bisa melanjutkan cintaku dalam diam terhadapmu, melanjutkan bercinta dengan bayanganmu, melanjutkan harapan akan sebuah penantian kosong itu. Karena dengan berada di dekatmu, banyak pagar dan undang-undang yang membatasi, sungkan dan rasa malu. Entah malu karena kenangan busuk kita atau sungkan karena patah yang sangat patah.
Aku melanjutkan tujuanku tanpa temanku itu. Dia pergi pulang ke istananya dan aku pergi memikul beban yang lain.

Waktu berlalu dengan cepat, detik berdenting melalui jam di dinding. Ada saatnya aku angkat bicara pada forum itu, dan ada jeda untuk aku diam lama lalu bermain dengan pikiran liar. Aku kadang tertunduk memikirkan kuliah atau sekadar memikirkan besok harus pulang sore. Namun ketika indra penciumanku terganggu oleh bau, bau yang tidak asing, bau yang pernah menemani setiap malamku dan aku tahu siapa pemiliknya, kamu! Aku tahu kamu tak ada di forum itu, aku tahu aku hanya berhalusinasi. Tapi entah, semua begitu nyata dan berulang kali tercium. Dan aku lalu tahu jawabannya apa, aku begitu rindunya. Mungkin. Tapi pasti kamu tak rindu, bahkan memikirkanku saja tidak.

Kembali pada judul dan bait puisi itu. Ya ini yang aku maksud cinta yang sederhana. Cinta hanya dengan bayangan. Tak pernah marah atau cemburu. Tak ada tuntutan. Seperti kayu dan api serta bagai hujan dan awan. Aku memang pandai merangkai kata, tapi aku belum pandai dalam mencintaimu. Maafkan. Mungkin kamu sudah tidak nyaman. Tapi aku ikhlas dengan segalanya. Walau ikhlasku masih belajar. Karena bahagiaku adalah dirimu, jadi aku harus selalu senang ketika kamu senang. Maaf tak berani menatapmu apalagi menjadi pembicara yang baik dihadapanmu. Maaf hanya bisa menjadi anon di ask.fm mu. Maaf!

Bosan ya dengan kata maaf? Hahahaha.. aku lebih dari bosan mengucapkan padamu. Tapi tak akan pernah bosan belajar jadi orang yang baik. Selalu tak akan bosan menyebutmu dalam doa sederhanaku. Dan  kalimat terakhir dihari ini yang harus kamu tahu:

“Menunggumu bukan jawaban atas kegelisahan dan kesedihan, tapi aku akan tetap melakukan itu. Tak akan bosan. Sampai ada orang yang menyadarkan kebegoanku. Dan pasti kamu bisa menebak kalau aku tak menemukan orang itu. Selamat! Kamulah pemilik sejati dari hati bernama aku.”

Sekian.


Kamis, 29 Januari 2015

Hari Ini

Hari ini aku
Dalam perjalananku
Aku melihat dua anak perempuan bersepeda dengan girangnya
Seorang anak perempuan menyusul dari belakang
Tak jelas tapi terasa betapa bahagianya mereka

Hari ini aku
Dalam sisa perjalananku
Aku memperhatikan
Kakek dan cucunya
Di sebuah stasiun tadi pagi
Melihat kereta yang silih ganti berdatangan
Memandangi keretaku yang menunggu sebuah kereta berlainan arah
Cucu memandangi deretan gerbong itu dengan penuh suka cita
Dan kakek memperhatikan cucunya dengan penuh kebahagiaan

Hari ini
Aku turun dari kereta
Dengan padangan hampa
Memperhatikan disekitarku yang seharusnya sudah terbiasa
Yang seharusnya aku bahagia karena akan memeluk adikku
Yang seharusnya bahagia karena akan merasakan nikmatnya rumah
Tapi sakit masih terasa
Melintas bayangan fahri diujung stasiun hari ini
Nanar

Tuhan,
Tak bisakah aku bahagia seperti gadis2 itu?
Atau seperti anak kecil yang digendong kakeknya?
Aku kembalikan memori tentang Fahri dihati
Berjalan mencari jemputan
Jemputan mengobati patah yang sangat patah

Rabu, 21 Januari 2015

Seseorang Bernama Delpi

Delpi
Namamu aku beri nama tanpa sengaja
Menyamarkanmu dari dunia nyata yang tak seharusnya kamu ketahui
Menyembunyikanmu dari ketidaktahuan yang aku sengaja sembunyikan
Memelukmu tanpa kamu tahu aku peluk dengan hanya menyebut namamu

Delpi
Orang yang mencintaiku dengan diam
Mendoakanku agar selalu selamat di sini
Laki-laki yang mencintaiku setelah ayahku

Delpi
Cinta yang aku lupakan karena kelemahanku
Cinta yang tetap mencintaiku walau aku sering lupa
Cinta yang selalu mencinta tanpa pamrih

Cinta yang selalu menggenggam kekurangan aku

Untuk Fahri


Sebulan yang lalu
Kita membuat cerita
Sebulan yang lalu
Kita tertawa
Sebulan yang lalu
 kita berpelukan
Sebulan yang lalu
kamu masih menggenggam

Hari ini
Kita masih membuat cerita
Tapi masing-masing
Hari ini
Kita tertawa
Tapi bersama yang lalu
Tanpa ketulusan, itu aku bukan kamu
Hari ini
Kita berpelukan
Bukan memelukmu
Kamu memeluk seseorang yang lain
Aku memeluk kenangan kita
Hari ini
Kamu menggenggam
Tapi bukan menggenggam tangan ini
Aku menggenggam tanganku berdoa untuk mu disana

Sebulan kemudian
Aku tertawa
Berharap ada seseorang
Sebulan kemudian
Aku membuat cerita
Bersama seseorang
Sebulan kemudian
Aku memeluk
Berpelukan dengan seseorang
Sebulan kemudian
Aku menggenggam tangan seseorang
Agar dia tak pergi

Seseorang…
Itu kamu
Masih berharap itu kamu

Seseorang dua bulan lalu

Selasa, 24 Juni 2014

Sejarah Cinta Cicing



Sudah lama, aku ingin menulis tentang ini. Sebuah kisah cinta yang hanya bisa diam, ia tanpa ungkapan, tak kata, namun hanya rasa yang bermain. Aku sering menyadari bahwa seorang aku hanya bisa menjalani cinta yang bernama cinta cicing ini. Aku menyadari pula, bahwa kebanyak seorang wanita hanya bisa menjalani cinta cicing ini, kecuali wanita itu mempunyai keberanian ditambah sekarang adalah jaman baru yang tak punya kemaluan.
Cicing sendiri mempunyai 2 arti yang aku ketahui, “asu” dalam bahasa Bali dan “diam” dalam bahasa Sunda. Tapi lebih enak kalau kita mengartikannya dari bahasa Sunda. Dan lahirlah Cinta Cicing, Cinta dalam Diam. Awalnya, cinta cicing sendiri timbul dari percakapan hangat dari mahasiswa yang kebetulan aku didalamnya. Saat itu kami sedang membuat proyek RBL sebagai tugas akhir Fisika. Aku adalah orang Bali dan semua tahu kalau arti “cicing” di Sunda dan Bali sangat jauh berbeda. Dari sanalah timbul lelucon kecil antara aku dan beberapa temanku. Salah satu temanku itu adalah Babon, seorang keturunan asli Garut yang sangat Sunda.
Saat itu posisiku juga sedang mengalami kegalauan secara mental yang menyebabkan setiap tingkah yang aku jalani begitu suram. Akibat ledekan tadi, maka timbulah suatu ide kreatif bernama Cinta Cicing, Cinta dalam Diam. Yang settingnya menceritakan percintaan gadis Bali dan Pria Sunda. Hhahahaha… tapi sekali lagi itu adalah lelucon kelompok RBL kami.
Bagiku sendiri, cinta cicing itu adalah apa yang aku jalani hari-hari ini. Aku hanya bisa diam. Diam, diam. Tak ada yang bisa aku lakukan selain diam. Diam untuk kesekian kalinya. Tapi aku sangat bahagia dalam diamku. Diam, bukan berarti benar-benar diam. Namun hatiku tak pernah diam untuk selalu mendoakan seseorang agar sampai dengan selamat ke gerbang Sabuga nanti.

Minggu, 25 Mei 2014

...



Setitik waktu yang kau beri padaku
Takkan mampu meluapkan emosi jiwaku
Tentang kejujuran yang tertinggal
Menunggu dan ditunggu
Lelah…

Secercah cahaya mengusik ragaku
Terbelah hancur entah mengaburkan bayangmu
Aku cinta dirimu
Lebih yang kau tahu
Ini perasaanku

Seberkas detik yang kau punya untukku
Takkan mampu melepaskan dahaga batinku
Melepas ketinduan akan sosok sejatimu
Menyerupai daun berguguran

Secelah sinar yang kau ungkap padaku
Slalu datang seperti hujan menderasku
Rasa ini abadi seperti kisah dia
Kau tahu itu…


Nb: sajak ini di buat saat SMP tepatnya tahun 2010. Sebenarnya ini lagu yang menceritakan tentang penantian.

Kamis, 22 Mei 2014

Hadar, Sebuah Cinta tanpa Wujud



Sebuah nama sederhana pemberian seorang tak dikenal terlukis sebuah titik di langit selatan. Ya.. dia Hadar. Sebuah fiksi yang aku buat untuk menutupi sebuah kerinduan yang mendalam untuk seseorang. Dia hanya bisa dirasakan, dihayati keberadaannya melalui jiwa yang tulus. Dia memang fiksi, namun begitu nyata ketika dilihat melalui celah hati.

Sejatinya hadar adalah sebuah bintang di rasi Centaurus (β centauri). ia merupakan bintang raksasa berwarna biru yang memiliki kecerlangan 0,61 dan bintang terterang kesepuluh di langit. Jarak 525 tahun cahaya dari Bumi.

Aku memang sangat menyukai bintang. Apalagi hari ini aku pulang ke rumah di Bali dan banyak melihat bintang. Dan salah satu bintang yang aku lihat mala mini adalah Hadar. Alangkah bahagianya aku dapat melihatnya. Di Bandung, aku sangat susah melihat bintang, terlebih melihat Hadar. Perasaanku saat melihat Hadar di suatu malam di Kembang adalah bahagia. Tak ada kata lain selain bahagia. Bahagianya adalah menikmati rasa kerinduan yang tak tersampaikan kepada “Pemilik Hadar” sendiri, namun bisa aku curahkan pada malam itu. Mungkin saja aku bisa menghubungi Hadar dalam tanda kutip tersebut. Tapi buat apa? Aku terlalu takut untuk memasrahkan semua. Aku takut bila aku melakukannya semakin banyak berita duka yang bawa ke kamar sebelahku. Takut kalau nantinya aku tak bisa menjalani hidupku sebagai manusia normal.
 
Untuk terakhir kalinya, aku katakan Hadar itu adalah fiksi yang nyata. Ia tak berwujud, dia pesan, dia puisi, dia rasa, dia sayang tapi belum ingin menyebutnya sebagai cinta walau kadang perasaan ini menuju ke arahnya. Dia nyata karena dia sebuah bintang. Dia ada tapi bersembunyi di balik sebuah nama, Hadar.


tertulis untuk Hadar. Salam dari langit Tabanan.