Entri Populer

Rabu, 14 Mei 2014

Titik



Di suatu hari di ujung senja..
Aku melihat sebongkah harapan dari horizon timur
Sebuah titik dimana aku bisa merasakan cinta yang begitu dalam
Sebuah titik yang disedikit condong ke selatan
Dia ada dan nyata
Surya semakin tenggelamkan cahayanya
Rembulan ikut menyosong lahirnya bintang dari setiap titik di timur
Tapi hanya satu yang membuat aku terdiam begitu lama
Sebuah titik diawal senja baru hari ini
Bayanganku teralihkan namun aku akan kembali ke Yang Punya
Suatu titik di timur
Titik segala rindu untuk yang punya hati

Aku dan Astronomi

 Kadang, dalam kehidupan kita sering bertanya-tanya, mengapa air mengalir? Mengapa langit biru? Mengapa bumi ini berputar?  Lalu, ketika kita sudah menginjak bangku menengah kita mulai berfikir,  Mengapa kita harus mempelajari hal-hal seperti mengukur kecepatan  , mengukur reaksi-reaksi kimia, logaritma, trigonometri atau mengetahui susunan batuan? Pertanyaan itu juga yang aku tanyakan, ketika aku berhadapan dengan satu materi yang bernama “ASTRONOMI”.
Astronomi merupakan ilmu yang mempelajari perbintangan. Di dalamnya kita bisa mempelajari tentang letak-letak bintang, bahan penyusun bintang, gerak bintang, cahaya bintang dan evolusi bintang tersebut. Ketika aku tahu bahwa ilmu astronomi mempelajari demikian, aku mulai berfikir,  “mengapa kita mempelajari hal itu? Bintangkan jauh banget. Mana bisa kita mengetahui komposisi bintang? Lalu darimana kita tahu tentang gerak bintang?” menurutku itu semua hanya hayalan belaka.
Tapi ketika aku mulai mendalami ilmu ini, aku sangat antusias. Aku baru mengetahui bahwa matahari itu juga sebuah  bintang. Jadi matahari tidak sendirian. Bahkan ada bintang yang ukurannya lebih besar, bahkan sangat besar daripada matahari! Wow, alam ini benar-benar istimewa. Bintang-bintang itu menyebar di seluruh jagat raya. Bintang-bintang juga membentuk kelompok-kelompok yang bernama “GUGUS BINTANG”. Selain gugus, ada kelompok yang lebih besar lagi yaitu “GALAKSI”. Galaksi menyimpan banyak sekali bintang-bintang baik itu bintang individu atau gugus bintang.
Dalam astronomi, kita bagaikan diajak untuk berwisata mengelilingi jagat raya. Pikiran kita seolah-olah diantarkan berkunjung ke galaksi satu ke galaksi lainnya, kesistem tata surya satu ke system tata surya lainnya, serta bintang satu ke bintang lainnya. Informasi tentang keberadaan benda-benda lain di alam semesta dapat diketahui melalui sumber terpercaya yang bernama “cahaya”. Cahaya menyimpan berbagai gelombang informasi dari benda lain tersebut. Dari sinilah, kita dapat menganalisis karakteristik benda lain tersebut, baik itu jarak, temperature, massa,kecepatan dan lain sebagainya.
Astronomi bukan hanya mempelajari tentang bintang saja juga mempelajari tentang letak-letak bintang dalam bola langit. Dengan mempelajari letak bintang dalam bola langit, kita dapat mengetahui peredaran matahari, musim, bahkan kapan waktu untuk panen.
Nah, setelah aku tahu semua hal yang dipelajari di astronomi, aku mulai tertarik dan bersemangat. Banyak manfaat dengan mempelajari astronomi. Jadi jangan pernah takut untuk belajar ilmu ini!


Nb: ini adalah tulisan saya dalam blog saya yang telah usang. saya menulis ini ketika saya masih SMA. semoga dapat memotivasi :)

Sepuluh Persen

Kemarin aku mendapat jawaban dari Tuhan tentang berartinya sebuah angka bernama sepuluh. Sebuah angka yang bisa mengubah kehidupanmu seketika. Angka yang bisa membuatmu tersenyum lebar atau malah sebaliknya, kecewa berkepanjangan hingga saat kamu jalan-jalan, angka sepuluh itu masih berkutat dalam otakmu. Sepuluh, mungkin itu angka yang sangat besar dalam skala sepuluh. Tapi coba bila kita tambahkan kata persen dibelakangnya, apa arti kata sepuluh? Besar atau sangat kecil?

Berbicara tentang sepuluh aku jadi ingat perbincangan dengan seorang teman di CC Barat kampus tentang sepuluh persen itu. Katanya, dalam sepuluh persen itu ada 10 apel jadi masing-masing apel berharga satu persen, jadi buat apa kamu memikirkan 1 apel besok? Begitu katanya padaku ketika aku memikirkan sebuah apel dalam sepuluh persen itu. Pikiran aku berubah saat itu. Aku tak menghiraukan lagi tentang apel atau sebagainya yang berkaitan dengan sepuluh persen itu.

Hampir setahun aku di kampus ini, aku masih saja tak memikirkan sepuluh persen itu. Aku menganggapnya sebagai hal yang tak patut dipikirkan. Bahkan ada teman lain yang mengubah kata “sepuluh persen” menjadi “sepuluh milligram”. Aku semakin meyakini bahwa sepuluh persen memang sepuluh milligram. Namun hal itu seketika berubah ketika aku melihat kenyataan dari seorang sahabat dan juga dari aku sendiri.

Oke, yang pertama adalah kisah sepuluh persen dari sahabatku. Sepuluh persen miliknya adalah 66 yang berarti 6,6 dari nilai total seratus. Apa artinya? Ia kurang poin sebanyak 3 untuk mencapai sebuah indeks yang didewakan setiap umat di kampus ini.

Yang kedua adalah kisah sepuluh persen yang aku alami sendiri. Sepuluh persen milikku adalah 56 yang berarti 5,6. Aku kurang poin sebanyak 3 untuk mencapai sebuah indeks yang juga didewakan setiap mahasiswa untuk berdiri di Sabuga sana. Hahah… 5,6 itu aku dapatkan dari apel-apel yang aku sia-siakan dalam satu semester ini. Setelah dipikir-pikir, 90 % sisanya adalah nilai yang indeksnya sangat didewakan oleh semua umat dan aku menghancurkan indeks dewa untukku dan turun satu peringkat dibawah seorang dewa karena tak mau makan apel.

Aku menyesal? Bisa jadi! Sangat menyesal mungkin. Tapi justru aku berterimakasih pada Tuhan atas hadiah sepuluh persen yang “sia-sia”. Aku bisa belajar bagaimana cara meghargai sesuatu yang kecil. Bagaimana aku bisa bersyukur atas kesedihan yang aku dapatkan dan juga aku belajar bahwa dunia ini bukan langit saja.

“Hargai sepuluh persen dalam hidupmu apabila ingin dunia mengangkat derajatmu”